Indonesia Tanpa JIL

Menjadi Muslim adalah pilihan. Tidak ada yang berhak memaksa seseorang untuk mengucapkan dua kalimah syahadat, atau pun menolaknya membacanya.

Tetapi ketika seseorang telah memutuskan dirinya untuk memeluk Islam, maka secara otomatis dia mengikatkan dirinya pada peraturan-peraturan thus ritual-ritual yang diringkas dalam dogma Rukun Iman dan Rukun Islam.

Aturan-aturan tersebut tersurat dalam Al Quran yang merupakan pedoman hidup umat Islam, dan dijelaskan secara rinci dalam Hadist Rasul. Contoh mudahnya, Al Quran mewajibkan umat Islam untuk Shalat, tanpa merinci tatacaranya. Nah, tatacara Shalat bisa kita dapatkan dari Hadist. Intinya, masing-masing berhubungan. Mengenai peraturan-peraturan yang belum termaktub dalam AlQuran dan Hadist, terutama terkait situasi kondisi masa kini yang berbeda dengan masa diturunkannya Al Quran, umat Islam biasa berpegang pada yang namanya Ijma dan Qiyas, atau secara lebih luas biasa disebut Ijtihad.

Produk dari suatu Ijtihad tentunya tidak boleh bertentangan dengan sesuatu yang telah tertulis di Al Quran ataupun diterangkan Rasulullah dalam hadist-hadistnya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya pelaku Ijtihad adalah orang-orang yang tentunya mengerti dan mendalami ajaran Islam. Contoh mudahnya, Al Quran didukung berbagai catatan Hadist melarang umat Islam untuk minum khamr (memabukkan). Tidak ada sama sekali tertulis larangan menghisap sabu, karena pada masa Rasulullah belum ada. Tapi para ulama bersepakat (Ijma) bahwa menghisap sabu efeknya sama, bahkan lebih berbahaya (Qiyas) daripada khamr. Karena khamr sudah jelas diharamkan, maka menghisap sabu pun diputuskan sebagai sesuatu yang haram bagi kaum Muslimin.

Adakalanya Ijtihad menghasilkan sesuatu yang debatable. Contoh paling mudah di Indonesia adalah dalam penentuan Idul Fitri 1 Syawal. Ada sekelompok Ulama yang berijtihad untuk menentukan 1 Syawal berdasarkan kemunculan bulan secara kasat mata. Ada sekelompok ulama yang menentukan 1 Syawal berdasarkan perhitungan astronomis. Masing-masing pendapat itu pun ada turunannya lagi. Namun, yang perlu diperhatikan disini, masing-masing pendapat itu berpegang pada Al Quran dan Hadist tentang penentuan awal bulan, Idul Fitri, dsb. Bukan asal-asalan berpendapat.

Disinilah umat Muslim yang “dewasa” harus memaknai perbedaan output dari Ijtihad. Karena masing-masing pendapat Insya Allah berdasarkan dalil-dalil yang shahih, maka perbedaan hasil Ijtihad ini merupakan contoh perbedaan yang seharusnya bisa diterima. Sebagai orang awam, kita berhak menentukan pilihan hari Idul Fitri kita pada salah satu dari pendapat tersebut yang kita kira “lebih afdhol”. Namun, pendapat yang berbeda bukan untuk disalahkan. Toh, masing-masing sudah mengemukakan argumennya berdasarkan AlQuran dan Hadist yang keshahihannya sudah diterima umum.

Fenomena beberapa tahun belakangan ini, makna Ijtihad menjadi melebar tanpa batas. Di Indonesia, kelompok yang dimotori oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan tokoh utamanya macam Ulil Abshar Abdalla, Guntur Romli, dll aktif mengkampanyekan Ijtihad di hampir seluruh aspek ke-Islaman. Disinilah muncul kerancuan suatu Ijtihad. Tidak jarang, suatu pendapat yang jelas-jelas bertentangan dengan aturan baku di Al Quran ataupun Hadist, dikampanyekan sebagai sebuah Ijtihad.

Untuk mendukung argumennya, tidak jarang pula (baca: sering) kelompok pemikiran ini melakukan penafsiran tersendiri terhadap suatu ayat Al Quran. Namun, penafsiran ini sangat sering serampangan, seenaknya, dan bertentangan antara ayat satu dan ayat lainnya. Jangan disamakan dengan penafsiran Al Quran ala Ibnu Katsir ataupun Hamka di Indonesia yang mendalam dan sangat teliti. Sayangnya, umat Islam Indonesia secara umum yang tentunya kelompok Islam KTP termasuk gw (baca: memeluk Islam, mungkin aktif pula dalam ritual keIslamannya, namun tidak mau belajar Islam secara mendalam) sering terbuai dengan penafsiran atau Ijtihad seenaknya tersebut, yang selalu berlindung dibalik kata-kata sakti macam “pluralism”, “Islam yang damai”, “kebebasan berpendapat”, dsb.

Silahkan baca situs JIL di islamlib.com atau tulisan-tulisan pribadi para dedengkot JIL yang berhubungan dengan Agama. Semua terkesan indah, damai, anti kekerasan, logis, dll. Bila kita tidak melengkapi diri dengan pengetahuan dan keimanan yang “cukup”, bukan tidak mungkin kita akan mengangguk-anggukkan kepala ketika situs itu mengkampanyekan hal-hal yang sebenarnya sudah ada aturan jelasnya di Al Quran dan Hadist sebagai pedoman hidup kita kaum Muslimin, semisal “Muslimah tidak wajib berjilbab”, “Semua agama adalah benar”, “Shalat boleh pakai Bahasa Indonesia”, bahkan “Adanya kontradiksi dalam Al Quran”.

Ijtihad ala JIL ini tentu saja tidak sesuai dengan Islam yang gw yakini. Bagaimana mungkin, ketika Al Quran sudah menyuruh muslimah menutup auratnya, didukung bermacam hadist yang memberi penjelasan secara lebih rinci, JIL tiba-tiba berijtihad bahwa pemakaian jilbab adalah bukan ketentuan Islam namun hanyalah budaya Arab, yang secara otomatis menihilkan kewajiban menutup aurat bagi Muslimah? Bagaimana mungkin ketika Al Quran telah menyabdakan finalitas kebenaran dalam Islam, JIL tiba-tiba mengkampanyekan bahwa kebenaran bisa ada dimana saja? Bagaimana mungkin ketika Al Quran dan Hadist telah menjelaskan tentang larangan perilaku homoseksual, Ulil Absar Abdalla yang aktifis JIL tiba-tiba menyangkal dan berasumsi bahwa hukuman Allah pada kaum Nabi Luth di Sodom-Gomorrah malah disebabkan oleh hal-hal remeh yang tidak masuk akal?

Semua agama mengajarkan kebaikan, itu pasti. Setau gw, gak ada agama yang nyuruh penganutnya untuk korupsi, merkosa, dll. Tapi, mengenai kebenaran, begitu gw memutuskan menerima agama gw Islam, secara otomatis gw akan bilang bahwa kebenaran ada di agama gw, seperti yang tertulis di Al Quran sebagai pegangan umat Islam. Adalah sebuah oksimoron ketika gw bilang bahwa gw Islam, tapi gw bilang agama lain juga benar. Gw yakin, temen-temen yang Katholik, Kristen, Buddha, dll pun akan berkeyakinan sama tentang kebenaran agamanya. Yang jelas diajarkan di Islam, adalah menghormati penganut keyakinan lain. Hubungan sosial, kerjasama, pertemanan, muamallah dll adalah sesuatu yang harus selalu dijunjung tinggi dalam kerangka toleransi dan saling menghargai.

Sayangnya, dengan berlindung di balik topeng “anti kekerasan”, JIL selalu memposisikan orang yang mengkritisi “ijtihad abal-abal” mereka sebagai kelompok pencinta kekerasan. Great. Taktik cerdas, and it works! Karena kebetulan JIL “berseteru keras” dengan FPI misalnya, maka setiap orang yang menolak Ijtihad ala JIL dengan cepat dicap sebagai simpatisan FPI. Pencinta kekerasan. Oalah… Jangan-jangan abis baca tulisan ini, temen-temen gw juga langsung nyangka gw anggota FPI, atau MMI, atau Al Qaeda, atau apalah =))))

Lalu, seandainya ijtihad ala JIL itu salah, dimana masalahnya? Toh semua orang berhak berpendapat. Dan toh, JIL pun tidak pernah memaksa orang untuk setuju dengan pendapatnya.

Disinilah yang bikin gw “jengkel” dengan JIL.

Tidak masalah ketika JIL berpendapat dalam koridor pribadi masing-masing atau internal kelompoknya saja. Tetapi kenyataannya gak begitu. Kampanye masif “penyebaran paham Islam Liberal ala JIL” sudah pada tahap merusak. Bukan dengan bentuk kriminal menggunakan pentungan atau bahkan bom ala teroris tentunya. Tapi dengan pemutarbalikan pemikiran dan meremang-remangkan segala sesuatu yang sudah jelas dalam Islam. Para aktifis sepemikiran JIL melebur di berbagai ormas Islam, partai politik, media massa, social media, bahkan mesjid kampus dalam menyebarkan pahamnya.

Gw peduli ke temen-temen Muslim gw yang lain. Gw peduli ke keturunan gw kelak. Gw gak ingin mereka ikut tersesat dengan paham-paham nyeleneh dari JIL ini.

Lalu, sesudah nulis sepanjang ini, apa berarti gw udah Islam secara kaffah? Udah gak bikin dosa sama sekali? Halah. Gak ada manusia yang bebas dari dosa. Apalagi gw yang begajulan ini. Jujur, gw mah dosanya udah kebanyakan. Tapi, gw gak akan melakukan justifikasi perbuatan dosa gw dengan mempermainkan ayat Al Quran. Dosa ya dosa. Salah ya salah. Gw Cuma berharap, cepat atau lambat gw bisa jadi Muslim yang baik dan bisa meminimalisasi tabungan dosa gw.

Yang jelas, gw gak akan melakukan so called Ijtihad untuk menyesatkan orang lain apalagi untuk melakukan pembenaran hal salah yang gw lakukan dan menjerumuskan orang lain untuk meragukan kebenaran Al Quran dan Hadist dengan menafsirkan bahwa aturan dosa akan kegiatan yang gw lakukan adalah remeng-remeng, multitafsir, atau bahkan sebagai sesuatu yang halal.

Capek nulisnya… Intinya…

I SUPPORT #IndonesiaTanpaJIL

Indonesia Tanpa JIL

posted 19 Mei 2012

52 Responses to Indonesia Tanpa JIL

  1. Avirossilmi says:

    G sengaja nemu blog ini, cb tebak keywordnya apa mas ichanx? :-) gw bc asik, tulisan nya enak d cerna, gw ingin nulis kyk gini tp g pernah kesampean:-) males:-) pdhl pingin bangetttt. Dan yg keren nih, g nyangka tulisan ttg JIL tlh membuka cakrawala byk org, secara mas ichanx nih bukan ustadz gt loh? Sory ya mas:-) tp ngerti dan sadar apa bahaya Jaringan Iblis nih. Wokeh Keren Mas! Salam 1 Jari. Hehe msh anget nih suasana pilpres:-)

  2. inos says:

    Aslmlkm wr wb , Amin ya robbal alamin, mugi urang sadaya diampuni dosa na, hatur nuhun Cep Ichank infona, si JIL teh harus ditumpas, sarua jeung si iblis la’natullah, tumpas habis kesesatan…
    kade Salam metal oge saruana tah , “salam metal=baphomet=hulu setan”, aya gening carita barudak cibiru ari Sholat Jumatan angger we eta baju parapatan rebel + alkohol skuad dipapake pajarkeun lebar urut baju Lebaran, baheula meuli ti distro setan , pajarkeun teh “anying negonk”, pikaseurieun setan, ongkoh rek Sholat, tapi baju setan dipapake, dicarek ngalawan da pajarkeun teh manehna budak pasantren, cenah, jadi hariwang ka budak sayah bisi kabawakeun nu kararitu…

  3. otong says:

    btw ichank sendiri masuk Islam karena mendapat petunjuk atau hanya ikut ikutan orang tua?

  4. Outbound says:

    Islam KTP berpotensi besar untuk terpengaruh dengan aliran JIL.
    PR buat para alim ulama untuk gencar mencari ide2 yg segar, meng-islam-kan umat muslim.

  5. Andy MSE says:

    *menyimak dengan takzim*

  6. @gung says:

    Sekedar meluruskan saja..saksi Yehova itu emang bukan bagian dari Kristen.
    Sebab Kristen itu adalah sebutan bagi mereka yg mengikuti Yesus sebagai Tuhan..ingat Tuhan bukan Nabi. Nah pada titik inilah perbedaan yg krusialnya antar Kristen dengan para pengikut saksi Yehova.
    Karena itulah mereka tidak mengunakan Injil Perjanjian Baru sebagai bagian pokok dari pengajaran imannya…
    Smoga ikut mencerahkan.

  7. Naphee' says:

    waaauuuuwww…..
    bang ichanx kerreeeennnn…. \^o^/
    g’ nyangka…. 😀

  8. Hidayat says:

    Mantap tulisan-nya Chanx…… memberi pencerahan.

  9. Nice post plus tanggepan Ichanx untuk Deni Oktora aQ setuju bgt :) selama ini aQ mnglami sendiri, bhwa Islam itu agama yg universal sekaligus fleksibel. Hal kecil misalnya, mengenai aturan sholat, klo nggak bisa mengerjakannya dalam keadaan berdri yh duduk, klo msh g bs duduk yg tdr. Untuk lingkup ibadah sprti sholat aj Islam sdh mnunjukkan fleksibelnya. Aplg untuk bbrbgai aturan yg lain yg sdh di atur sedari dl dan yg akn dtg. Adpn brbgai larangan semisal LGTB & mabuk2an, jls dr sisi medis aja udh dinilai g sehat, aplg agama, bgtupun dgn pemakaian jilbab, maaf nih yah, selain Islam, agama Kristen misalnya, di greja2 jg pake pakaian srba tertutup khan? ^^” skl lg itu mnnjukkan bahwa Islam adlh agama yang melindungi manusia dr sswtu yg nggak baik. 😀 aQ hanya mngutrakn pdnpt aj, bahwa Islam itu agama yg fleksibel, nggak kaku dan realistis serta satu2nya pedomannya yg plg bnr adlh al-Quran. Smntra Ijtihad ala JIL sprti udh bkn aturan positif lg, udh nggak melindungi umatnya lg dan udh bertentangan dgn Al-Quran yg sbnrnya. Subhanallah, mudah2an kita senantiasa diberi petunjuk oleh Allah.. Amin :)

  10. deni oktora says:

    Mwahahahahaha..dibales juga dengan gak kalah panjang :)

    Thanks ya kang Ichanx atas reply-nya. Btw I follow your account twitter, and I have read your book (Bankir sesat). it’s quite funny and witty.

    Waiting for your 2nd book!

    Keep on writing and bloggin! :)

  11. deni oktora says:

    Halo kang Ichanx, sepertinya tulisan ini ditulis dengan serius ya. berbeda dengan postingan-postingan lain yang dibalut dengan komedi :)

    Tapi bukan ichanx namanya bila tidak bisa menulis dengan cara yang witty dan to-the-jleb. tulisannya selalu mengingatkan gue dengan Adhitya mulya. mungkin semua orang bandung berbakat dalam hal menulis dengan cara yang smart & Witty ya? :)

    Berhubung gue non muslim maka gue ingin mengomentari postingan ini dari sudut awam gue. mohon maaf kalo ada salah-salah kata. tapi gue akan sampaikan secara langsung straight to the point.

    Entah kenapa…no hard feeling ya sebelumnya…Sebagai orang non muslim, dan orang awam…DULU gue selalu mengidentikkan ajaran islam sebagai ajaran yang tidak flexible. tidak flexible dalam arti tidak bisa mengikuti perkembangan atau dinamika modern masyarakat dalam bersosialisasi. terlebih bersosialisasi dengan masyarakat majemuk macam di Indonesia (Baca non muslim)

    Setahu gue, Islam mengharamkan memberikan selamat atas perayaan hari raya agama lain. sekadar mengucap selamat hari raya natal, waisak, paskah dan lain. dan menurut gue Islam selalu cenderung bersifat opresif terhadap hal-hal yang dianggap salah di matanya. Atau tidak sesuai dengan pandangannya. terlebih dengan kaum minoritas.

    Namun kehadiran JIL (Jaringan islam liberal) di Indonesia membuat gue berpikir kalau ternyata dibalik islam yang selama ini gue kenal sebagai agama yang kurang “flexible” dalam hal bersosialisasi dengan kemajemukan ternyata memiliki sisi yang mampu mengayomi hal-hal kemajemukan tersebut. Islam liberal bukanlah islam yang melegalkan LGTB (Lesbian, Gay, Transgender, Bisexual) di negeri ini. Mereka juga TIDAK SETUJU dengan LGBT. tapi mereka BERANI untuk menghormati dan mengayominya serta membiarkan mereka mengeluarkan pendapat.

    Islam liberal juga tidak bermasalah dengan keberadaan Ateis di negeri ini. bukan berarti mereka MENYETUJUI atau sependapat dengan ajaran Ateis. tapi setidaknya mereka BERANI untuk menghormati dan mengayominya. serta membiarkan mereka mengeluarkan pendapat.

    Hal ini lah yang membuat gue jatuh cinta dengan JIL. dan menurut gue Islam yang seperti inilah yang dibutuhkan oleh dunia dengan kemodernitasnya dan kemajemukannya. bukan islam abad pertengahan.

    Bila Ichanx mampu menulis dan mengulas tentang bahayanya website islamlib.com coba dong..sekali-kali menulis tentang website seperti VOA-islam.com dan sejumlah web-web islam lainnya yang cenderung menyuarakan kekerasan dan bersifat opresif terhadap kemajemukan. biar lebih netral begitu.

    Sekali lagi mohon maaf bila ada salah kata :)

    • ichanx says:

      wah, gak kurang panjang nih komennya, lae deni? hihi…
      ok, gw coba “jelasin” beberapa hal dari komen ini menurut pandangan gw pribadi ya…

      1. jangan samain gw dgn adhitya mulya.. dia mah penulis level dewa, gw super ecek-ecek. 😀

      2. mengenai fleksibilitas umat islam dalam sosialisasi dgn non muslim di konteks ucapan selamat hari raya, begini.. Boleh enggaknya ngucapin selamat hari ke non muslim, kalo di tulisan gw di atas masuk ke contoh bentuk ijtihad. Maksudnya, di aturan baku islam (al qur’an – hadist) gak secara spesifik to the point ngebolehin atau melarang, jadi aturannya “disesuaikan” dengan kondisi saat ini.
      Dalam ijtihad ini ada yang berpendapat membolehkan, ada yang melarang. Masing-masing pendapat berdasarkan penafsiran dari qur’an dan hadist. Tapi, bahkan yg melarang ucapan selamat sekalipun, semuanya sepakat bahwa “membiarkan” atau “mempersilahkan” umat non muslim untuk merayakan hari rayanya adalah sesuatu yang tidak diperdebatkan lagi. Itu masuk ke ranah hak asasi dari setiap pemeluk agama. Masalahnya hanya di “ucapan selamat”. Sementara hubungan sosial sesama manusia (pertemanan, perniagaan, tolong menolong, dll) tanpa membedakan agamanya adalah suatu keharusan yang sudah disepakati seluruh muslim.

      Sekedar perbandingan (bukan berarti gw menyebut bahwa di Indonesia sudah “sempurna” ya), di negara2 maju yang mayoritas non muslim, bahkan kebanyakan perusahaan2 disana sekedar memberi libur bagi karyawan yang muslim untuk merayakan Idul Fitri pun tidak diperbolehkan. Libur hari raya loh itu. Belum lagi izin yang lebih “ecek-ecek” semacam shalat harian. Bahkan masih di Indonesia, banyak banget (dan ini gw alamin langsung sendiri) perusahaan yang melarang muslimah untuk sekadar pake jilbab.

      3. Mengenai Islam yang “opresif” terhadap yang beda keyakinan/minoritas, ini bisa berkembang banyak. Harus dijelasin dulu, opresifnya dalam bentuk apa.. Memang, ada kelompok Islam yang “lebay”. Dalam pembangunan tempat ibadah non muslim yang “dipersulit” misalnya. Tapi, kalo acuannya itu, bukan hanya “oknum Islam”. Di bbrp daerah di Indonesia Timur, apalagi di negara2 barat, “oknum” semacam itu malah muncul dari kelompok Kristen/Katolik. Sekali lagi, gw bukan memberikan “pembenaran” tentang aksi kelompok yg lebay2 itu, tapi sekadar menunjukkan bahwa masalah “fleksibilitas” dan “opresif” itu bisa dimana-mana. Bukan hanya masalah Islam aja.

      4. Mengenai JIL, dan tulisan-tulisan yang lae kasih huruf kapital, justru disitu masalahnya. Gw gak masalah dengan temen2 gw yg LGTB, itu hak mereka. Bagi gw yg berdasarkan agama gw, mereka jelas salah. Tapi itu hak mereka, gw gak berhak ngelarang. Lalu dimana posisi JIL? Apa bener mereka tidak setuju? Coba cek link ini, ini, ini, dan ini. Justru mereka (para tokoh JIL) membuat pembenaran LGTB dari sudut pandang Islam dengan penafsiran seenaknya seperti gw bilang di postingan gw di atas. Kalo mereka ngomongin HAM bahwa LGTB itu punya hak hidup, hak untuk dilindungi negara, dll, itu memang seharusnya karena toh mereka warga negara dan punya hak untuk menerima pengayoman dari negara. Tapi yang JIL lakukan bukan sekedar “mengayomi”, namun mengobrak-abrik panduan Al Qur’an dan Hadist dengan seenaknya sehingga diartikan Islam membolehkan LGTB.

      5. Mengenai JIL dan pandangannya terhadap ateis. Gw sih nganggep dari sudut pandang Islam, dan agama manapun di dunia ini, ateis jelas salah. Orang Islam yang benar mempelajari Islam, atau orang Kristen yang benar-benar menganut agamanya, pun pasti akan bilang agama masing-masing yang benar, dan agama lain adalah salah. Tapi itu tentunya di konteks pandangan pribadi, bukan secara hukum positif negara. Nah, ateis secara hukum justru dilarang oleh founding father bangsa ini ketika bikin Pancasila sebagai dasar negara, di sila pertama. Jadi kalo JIL “membela” ateis untuk hidup di Indonesia, itu gak ada hubungannya dengan Islam ataupun agama lain. Tapi silahkanlah beradu argumen dengan pembuat konstitusi negara ini.

      6. Masalah dunia skrg yang bukan abad pertengahan dengan modernitas dan kemajemukannya, ini juga rancu.
      Kalau yang dimaksud modern itu harus ngeralat kitab sucinya untuk membenarkan homoseksual misalnya, maka bukan cuma Islam yang gak modern. Kristen pun demikian.
      Kalo yang dimaksud kemajemukan itu adalah dengan cuek akan adanya kelompok-kelompok yang ngaku Islam tapi bikin aturan agama bertentangan dengan Islam, maka bukan cuma Islam yang gak nerima kemajemukan. Kristen juga menolak saksi yehova atau aliran mormon.
      Tapi kalo yang dimaksud dengan modern dan majemuk itu adalah hidup di dunia sekarang, dengan sains dan teknologi yang maju, menerima perbedaan agama sebagai suatu keniscayaan tanpa menganggu hubungan sosial antar pemeluk agamanya, menurut gw Islam secara umum cocok kok. Andaikan ada beberapa kelompok Islam yang “ekstrim” dalam menolak kemajemukan, toh seperti contoh yang gw tulis di poin 2 dan 3 diatas… oknum Kristen dan agama lainnya pun banyak. *sekali lagi, bukan pembenaran. yang salah tetep salah*

      7. Mengenai voa-islam atau arrahmah misalnya, gw juga gak sepakat dengan banyak isinya.. terutama yang “sangat” keras. Meskipun untuk beberapa hal yang berhubungan dengan ibadah (non politik dan kekerasan), gw kadang2 baca. Sama dengan islamlib, gw juga gak sepakat dengan sebagian besar isinya, tapi bukan berarti gw kontra dengan pendapat mereka untuk anti kekerasan.
      Lalu kenapa gw milih untuk lebih “dulu” menyatakan nolak JIL? Karena gw yakin, mayoritas orang Islam yang pake logika bakal dengan cepat menolak atau tidak setuju dengan artikel-artikel “keras” di voa-islam dll. Tapi, mayoritas umat Islam yang pake logika tanpa ilmu islam (seperti umumnya orng Islam di Indonesia) itu bakal mengangguk2 dengan pemutarbalikkan ajaran Islam ala JIL. *selanjutnya seperti alasan yang gw tulis di postingan diatas*

      Wanjrit, gara2 lo nulis panjang, gw juga ngereplynya jadi panjang banget. Hahaha. Santai bro. Thanks komennya

      • deadly deaddee says:

        sorry telat respon baru nemu tulisan ini. nangis gw bacanya !!! cengeng yak ? elu semua pada pinter-pinter, pada berargumen dengan gagah berani. baik yang muslim maupun yang non muslim. tapi gak pada berantem,malah terkesan saling memberikan informasi. semoga semua yang ada di forum ini dikasih kesempatan sama ALLAH SWT buat berbuat lebih jauh untuk bangsa dan negara tercinta kita….amiiiiiiinn

  12. khansa says:

    analisa nya pas dengan bahasa yg ringan, so ga ada alasan untuk mempertahankan JIL dan pemikiran nyleneh nya..
    salam kenal..

  13. Name (required) says:

    halah, cuma gera’an sesa’at, anget-anget tai kucing, latah-latahan doang,
    kalo imannya kuat, gak peduli ada jutaan JIL di depan mata,
    yang takut ama JIL adalah orang-orang yang imannya lemah,
    merokok bikin lemah iman dan lemah syahwat, bro 😀
    wkwkwkwk

  14. Alris says:

    Saya belum banyak tulisan mereka. Tapi melihat aktifitas mereka bikin eneg juga.
    Jadi gak salah kalo seminar mereka yang di Salihara itu pantas dibubarkan. Gw dukung Indonesia tanpa jil.

  15. mascayo says:

    Kang, punten saya comot logona nya.
    Haturnuhun

  16. mascayo says:

    Assalaamu’alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

    Chank’, hade pisan tulisana euy
    Saya teu kudu susah-susah nulis, nya sarua kitulah saya oge …
    Kumaha damang kang?

  17. yusuf says:

    jil serigala berbulu domba

  18. Uchan says:

    Bro, keren bgt tulisan ini. Elu menunjukkan posisi elu dmn, wlw tulisan2 lu gw baca kadang rada “brutal” gmn2 gitu… kekekeke

  19. hoeda says:

    Jadi gatel pengin koment.

    Sumpah tujuh turunan nggak nyangka bakal nemu tulisan “waras” seperti ini di blog ini. Salut! :)

  20. Akbar says:

    hebat kang … sangat mencerahkan bagi saya..
    izin share ke teman-teman yah kang … nuwun ..

  21. Kalian harus melihat GEOPOLITIK DUNIA utk bisa paham maksud dan tujuan JIL.

  22. Jaloel says:

    izin share gan?

  23. Ocha says:

    Really2 good writing. (Pencerahan banget buat yg anti / ingin anti JIL).
    Pemaksaan kehendak sebenarnya di balik isu liberalisme.
    Pemerkosaan aqidah lah dilakukan JIL,
    juga justifikasi perbuatan dosa …

  24. ayi kamil says:

    Subhanallah.. sebuah analisa yang JERNIH dengan sudut pandang yang ke-KINI-an ala anak muda sekali, salut, begini memang seharusnya sesama muslim, tak lelah saling mencerahkan menuju kebaikan-Nya :)
    Allahu Akbar !
    *izin di share ya kang*

  25. sybond® says:

    No komen ah, di postingan ini..

    Saya juga mendukung #IndonesiaTanpaJIL tanda seru tanda seru titik

  26. phie says:

    Masih inget gw chanx? di mensyen diem aje,meni sumbunk pisan eta mah :-p
    Ijin share yeuh :-)

  27. Sapamikiran chanx.

    Islam ya Islam, gak ada islam pake embel-embel macam islam liberalis, islam pluralis,dll. Kalau ada pemikiran yang bertentangan dengan inti ajaran islam ya patut dijauhilah macam JIL ini.

    Tapi, chanx sayangnya pemikiran JIL ini udah menyebar halus dan pelan-pelan ke semua orang yg iman islamnya masih rendah. Termasuk gw juga.

    Kudu tobat.

  28. U can't beat ISLAM says:

    Simple aja.. Mau selamat itu ikut perintah ALLAH dan RASUL-NYA.. Lha koq maunya ngikut ULIL cs? Aya-aya wae.. wkwkwkwk

  29. hijriyan says:

    Mention dulu ahh… Cc @tanpajil #eh

  30. hf says:

    memang tampaknya digiring untuk memilih kan umat…terlihat peaceful dan moderat ala JIL atau keras barbar macam FPI dkk…

  31. sannya says:

    Nice post chanx… emang yang paling bikin serem adalah pendapat mereka yang terlihat sangat logis khawatirnya diiya-iya-in aja sama orang2 yang sebenernya pinter :( miris bgt

  32. eko hamnur says:

    Keren, keren, kereeennnn… Tulisannya mencerahkan… Sangat bermanfaat… Izin share dong.. boleh gak?? Thanks

  33. poetra says:

    Bukan sembarang orang bisa melakukan ijtihad. Jika sudah menguasai ilmu fiqh, nahwu, sharaf, hukum, ushulul hadits, dst, baru seseorang boleh melakukan ijtihad.

    Itu baru ijtihad. Belum lagi kalau ingin menafsirkan Qur’an.

    Parahnya orang-orang yang tidak punya pemahaman (gak usah iman dulu deh) tentang Islam yang sebenarnya. Jadi kesannya, kalau gak sepemahaman sama JIL, kesannya jadi muslim “garis keras”. Ngawur banget. Ngawur to the max.

    Gue sudah lama eneg banget sama kelakuan JIL ini. IMVHO, “kampanye” mereka itu sudah masuk ke ranah ‘ghawzul fiqr’.

    Jadi muslim itu ya panduannya Qur’an dan Sunnah. Kalau gak mau menerima Qur’an dan Sunnah sepenuhnya dengan keimanan, ya gak usah ngaku muslim. It’s that simple. Gak ada yang maksa juga kok :)

    • ichanx says:

      nah, sama ternyata yg di dalam kepala kita. lalu, kapan kita minum jus terong belanda di medan lagi put? hihi

  34. fauzi says:

    Bagus sekali tulisannya mas. mohon izin share ya…

  35. Wahyu says:

    Ini adalah tulisan yang menonjok saya dari dalam dan menampar diluar. Terima kasih atas tulisan yang menginspirasi, chanx :)

  36. mohawks says:

    mantap mas broo.,,,,,,,lanjutkan #indonesiaTanpaJiL

  37. nitnot says:

    setuju Chanx, bagian penutupna mewakili suara anak muda anti JIL, hehehe geura tobat Jang! 😀

  38. bagusrully says:

    Njrids, tararobat kieu baturan urang…
    Hayulah, urang support oge ah…
    Salam metal sadayana…

    • javva says:

      hayu atuh urang sasarengan ngajempput hidayah

      gentos ah ku salam tauhid,
      salam metal mah treefinga (trisula/trisaksi/trinitasi)

      ps: bray, AFAIK, ada jg agama yg memperbolehkan umatnya menipu org lain/merampas hak org lain diluar agamanya, lalu ada jg agama yg mengajarkan bolehnya berzina, jd gak smua agama itu ngajarin kebaikan

  39. riza says:

    ini juga yang gw rasakan. salut mas..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *